Pages

Minggu, 11 Agustus 2013

Monolog: Tahun 80-an

Tahun 80-an
Monolog SMKS-4 PGRI
Riski Nasution (teater matahari)

Seorang pria mengenakan pakaian compang camping seperti pengemis memasuki panggung. Dengan tatapan sini ke arah penonton, lalu mendongak saat di tengah panggun.

Salam teman dari tahun yang akan datang.
Perkenalkan, nama saya EGTI yang berarti saya hidup di tahun 80-an

Tahun berapa saat ini?

Ya benar sekali!, kalian memang tahun yang akan datang. sedangkan aku dari masa lalu. Tapi itu menurut kalian!, aku menemukan beberapa syarat yang harus aku jalani ketika aku berada di tahun yang akan datang tersebut, Aku harus menyimpan semua rahasia yang ada ditahun asalku, dan jangan iba ataupun iri melihatku disini, karena aku memang punya itu.

Aku yang hidup ditahun itu merasa kalau aku terjebak dengan pikiranku sendiri. Mungkin beberapa hal sudah berganti di tahun ini, lihatlah! kalian memegang benda yang aku tak tahu benda apa itu, yang pasti kalian sudah gila, karena berbicara dengan benda itu, dan juga menekan-nekan seperti ada sesuatu dalam itu, apa nama benda itu?, tak perlu jawab!!!, aku tak mau gila seperti kalian di tahun yang akan datang ini.

Ditahun 80-an aku hidup sebagai orang yang bekerja di PT terbesar didunia, PT tersebut menawarkanku untuk bekerja, menjadi mata-mata untuk orang-orang besari di PT lainnya. dan sepertinya PT tersebut sudah bangkrut ditahun ini, aku sudah yakin karena aku sendiri pula yang menghancurkannya.. hahahahahah!!!

Diam!, bukan urusan ku mengeluarkan rahasia itu, dan peraturanku disini juga menjaga rahasia,
Tapi rahasia itu harus juga segera terbongkar karena aku sudah tak tahan dengan tahun yang kusayang-sayang itu. mereka menyebutnya jadul?, bukannya zaman itu negri kita sedang berseri-seri?, mala yang lebih menyenangkan lagi di zaman itu aku diperbolehkan korupsi, tetapi tidak bernyanyi, hehehehehehehe. Nanyi dilarang?, malah ditahun kalian ini nyanyi adalah segalanya, bukan begitu Coboy Junior??, sinting!

Selagi aku hidup ini aku masih diberi kesempatan untuk berbicara lagi di depan kalian tentang bahaya menjadi penyanyi, membuat hormonku menjadi meleduk-leduk. membuat aku berdiri diatas panggung ini, padahal aku dari tahun 80-an ini. panggung ini aku yakin terbuat karena ada tahun 80-an. siapa yang benci tahun 80-an?, akan kukutuk jadi centong!!. tahun 80-an tempatku berasal memang merupakan zaman dulu, asalnya presiden yang kunilai bodoh, ya memang bodoh!. Karena bernanyi dilarang keras, apalagi menyanyi tentang dia. semua gerilya bodoh itu hanya bisa menyumput karena takut dimakan habis dengan tikus kecil yang tinggal di got itu, yang baunya menyengat busuk! takut dengan tikus got?? diluar nalarku.

Merasa bersalah akupun ikut bernyanyi agar presiden itu turun, tapi entah dari mana datangah seorang yang bernama babi ikut berdiri menjadi presiden, membuat aku semakin muak lagi, membuat pesawat pertama di negriku yang berser-seri ini? ha?, apa itu boleh, paling juga pesawatnya nyalin. huh!.. negriku yang berseri ini ga mau dibilang plagiat. tapi lagu ciptaannya plagiat.

menyanyikan lagu pesawat terbang

bernyanyi tentang pesawat itupun sekarang aku sudah muak, karena mendengar kalau dia akan bertahan lebih lama lagi, tapi ternyata tidak, hahahaha!, aku merasa senang dengan kenyataan itu. tapi terus saja muncul-terus muncul orang-orang bodoh yang berpikir mereka pemimpin. hingga akhirnya aku berada diatas panggung ini.

aku membawa beberapa hal yang perlu kalian lihat, aku membawa gambar beberapa pelantikan pemimpin yang membuatku geli, coba lihat!

mengeluarkan 3 lembar foto yang bergambarkan pelantikan.

yang ini, diambil ketika aku lahir, loh apa hubungannya foto ini dengan ku lahi?.. maaf , maksudku foto ini diambil ketika pelantikan pemimpin bodoh yang gelarnya ditahan selama 30 tahun lebih.. menggelikan untukku.
yang ini, diambil sama seperti tadi, namun foto ini lain lagi pemimpinnya, yang kunamakan si babi. namanya yang kurahasiakan dari kalian dari 80-an, foto ini membuatku menjadi gila karena kau tidak butuh pemimpin seperti dia, yang menyombongkan pesawat murahan hasil copy-an dari jerman tersebut. dia pikir dia orang pintar, terpintar di negeriku yang berseri-seri ini? ha?

Yang ini yang terakhir, kenapa aku takut membicarakannya. karena ini merupakan keluarga dekatku. nanti dia bisa marah. seseungguhnya ku adalah kakeknya dari tahun 80-an, lebih tepatnya adek dari kakeknya. tetapi tetap saja membuatku geli karena dia hanya memamerkan warna biru dari partai yang penuh korupsi itu. menggelikan.

begitulah kehidupanku di tahun 80-an sampai sekarang. tapi kudengar akan ada calon2 baru lagi yang akan menjadi pemimpin, kuharap itu aku. agar aku berantas semua orang sok yang sok dari orang sok, sok hebat lah, sok pintar lah, sok kaya lah, sok punya gelar lah, BODOH!

berjalan menuju sebuah meja yang sudah di tuliskan nama EGTI(80-an), pemimpin negara.
mengambil beberapa map yang berisikan kertas kosong dan memegannya.


Pilih saya, dan saya akan berjanji mengangkat derajat orang miskin setinggi dahan toge, dan akan memberikan uang jajan kepada orang gila, agar mereka bisa membeli rokok lagi, dan membiarkan tikus-tikus korupt berjalan sana sini tanpa tertangkap.
kubiarkan saja demokrasi melanda negara ini agar rakyat miskinlah yang menderita, sekian.
dan jangan salah coblos!, COBLOS NOMOR ENAM ENAM ENAM( Dengan tegas membaca satu persatu angka 666)

begitu kah pemimpin, aku hanya menerjemahkan janji mereka yang kujadikan nyata itu.

Dari tahun 80-an aku menyanggupkan diriku datang ketahun ini, aku membenci gaya tahun masa yang akan datang ini. terlihat bodoh dengan tarian mereka, sekarang malah pemimpin pun menjadi artis, geli!!

apa tahun 80-an yang salah?, atau memang negara yang berseri-seri ini yang salah?

memutarbalikkan nama yang ditulis itu, lalu menunkkannya kepada penonton

kalian tahu ini?, tentu saja kalian tahu, tapi kalian salah mendiskripsikannya, apa kegunaan dari benda ini?, maksudnya apa? untuk memamerkan kepemimpinan? bodoh! dan geli.
dinegriku yang berseri-seri ini hanya orang bodoh yang mau memamerkan kepemimpinannya, aku tak bodoh, aku tak butuh ini!

Membanting benda itu ke bawah panggun.
berjalan ke tengah panggung lagi.


aku tidak tahan dengan kepemimpinan mereka, mereka menggunakan uang-uang yang telah kukumpulkan hanya untuk kepentingan pribadi mereka, rakyat juga semakin bodoh. mereka masuk kedalam kota yang bernama bilik coblos, lalu memilih orang paling bodoh dan sok kaya, yang berjanji akan memagikan uang-uang bodohnya, huh!. mereka juga bodoh.

Rakyatku mau saja mengantri karena membayar pajak??.. membayar kok mengantri, Seharusnya tukang pajaklah yang mengantri untuk uang rakyatku ini. ohh!

Semakin aku bingung dibuatnya, sampai saat ini kenaikkan harga terjadi dimana-mana, malah memumbung sebuah restaurant berbentuk tanduk bison itu dengan uang-uang bodoh,
karena mereka punya bahan subsidi yang bernilai mahal tapi mereka timbun untuk di keluarkan satu-persatu. barang-barang selundupan yang ingin ku belu, tapi tak jadi karena itu merugikan dengara ku yang berseri ini, malah menyebar ke seluruh negara. Rakyat yang memiliki uang banyak , memilih cara bodoh untuk membeli barang selundupan tersebut agar bisa mendapatkan untung sbanyak mungkin.

Yang kaya menjadi semakin kaya, yang miskin menjadi semakin miskin, yang bdoh menjadi semakin bodoh, dan yang pintar malah menjadi licik!

duduk terkulai di tengah panggung

Aku kini sadar, hanya anak muda dari tahun 80-an sampai tahunyang akan datanglah yang akan memperbaikki negara kita yang berseri-seri dan dipikir bodoh, menggelikan dan liar untuk sarang tikus got bekejaran tunuk merebutkan uang dari rakyat yang bodoh, yang membayar pajak harus mengantri dulu.

generasi muda, memilih jalan mereka masing-masing, aku hanya ingin dibantu mereka. bukan mereka yang ada dikala kita jatuh ini?, demokrasi menambah semangatku untuk membangkitkan negri kita yang berseri ini, untuk mendapatkan kejayaan, kemerdekaan yang seharusnya sudah di rebut dari tahun jauh sebelum aku lahir itu.

senyumlah generasi muda. gunakan imajinasi dan nalar secara seimbang, untuk menang. bersama kita akan bangkitkan, memerdekakan secara logika bukan karena hilang ancaman penjajah.

bersama kita bisa!

Selsai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar